Sebagai guru yang puluhan tahun kerjaannya mengoreksi PR, dan blogger yang sudah menulis sejak 2004 dan masih keras kepala menulis sampai hari ini, saya punya satu kebiasaan aneh: setiap baca berita teknologi, tangan saya otomatis mencari pena merah. Minggu ini giliran Google yang saya periksa rapornya. Dan seperti murid pintar yang mendadak sombong setelah rangking satu tiga semester berturut-turut, nilainya campur aduk — kayak rendang dikasih boba, niatnya inovasi, rasanya bikin nangis yang punya warung.
Rapor Google — Diperiksa oleh Masri
Rapor Google: Pintar Sekali, Tapi Lupa Nyontumkan Sumber
BIMBINGAN
Poin pertama di rapor: Google sekarang doyan menahan muridnya sendiri di kelas, alias tidak lagi menyuruh keluar cari jawaban ke rak buku (baca: situs web) tapi langsung membacakan rangkumannya lewat AI Overviews. Efeknya, lebih dari separuh pencarian di Amerika selesai tanpa satu klik pun ke situs sumber. Kalau saya samakan dengan kelas saya: ini seperti murid yang nyontek jawaban teman sebangku, tapi bukannya nulis ulang di buku sendiri, dia malah merobek halaman punya temannya, menempelnya di buku dia, terus bilang ke saya "ini murni hasil pemikiran saya, Pak."
Poin kedua, dan ini yang bikin saya sebagai blogger dua dekade jadi sensitif: situs kecil dan independen makin lama makin ditinggal sepi, sementara forum-forum besar seperti Reddit dipeluk erat-erat oleh algoritma. Blog saya ini lahir hampir seumuran Friendster, pernah jaya di era kolom komentar sepanjang skripsi, sekarang page-view-nya kalah telak sama satu utas berjudul "update dikit doang tapi rame parah". Tapi anehnya saya tetap menulis. Bukan karena naif, tapi karena saya guru — dan guru itu profesi yang terbiasa mengajar meski muridnya cuma tiga orang yang serius mendengarkan di antara tiga puluh yang sibuk main HP.
Poin ketiga, saya coba adil sedikit — namanya juga guru, harus objektif walau gemas. Google melakukan ini karena kepepet bersaing dengan chatbot AI semacam ChatGPT, yang datang tiba-tiba seperti murid pindahan yang langsung jago semua pelajaran di minggu pertama. Demi tetap relevan, Google terpaksa mengorbankan model bisnis iklan yang selama ini jadi uang jajan seluruh web terbuka. Ibarat toko kelontong legendaris yang tiba-tiba pasang mesin self-checkout secanggih minimarket sebelah, padahal pelanggan setianya justru datang buat ngobrol sama abangnya di kasir.
Poin keempat, ini bagian rapor yang saya lingkari dua kali pakai pena merah: potensi kerugian penerbit digital ditaksir sampai miliaran dolar akibat klik yang menguap. Kalau di sekolah, ini setara laporan keuangan OSIS yang tiba-tiba minus padahal jajanan kantin tidak pernah gratis. Ruang redaksi bisa tutup, kreator independen bisa gulung tikar lebih cepat dari resolusi tahun baru yang batal di minggu kedua Januari. Dan yang bikin miris, konten yang dipakai AI untuk "menjawab dengan percaya diri" itu tetap hasil keringat manusia yang sekarang malah kehilangan penghasilan karena karyanya cukup dirangkum, tidak perlu dikunjungi.
Poin kelima, bagian paling menyeramkan dari rapor ini: AI mulai dilatih pakai konten buatan AI lain. Sebagai guru, saya paham betul efek ini — sama seperti murid yang mencontek jawaban dari murid lain yang juga mencontek dari murid lain lagi, sampai akhirnya jawaban akhirnya cuma mirip-mirip benar tapi tidak ada satu pun yang benar-benar paham soalnya. Internet pelan-pelan berubah jadi fotokopian dari fotokopian dari fotokopian — makin lama makin buram, sampai yang tersisa cuma bayangan samar dari sesuatu yang dulu pernah jadi pengetahuan manusia sungguhan.
Dan begitulah, sebagai guru sekaligus blogger yang masih setia mengetik tengah malam meski trafik saya kadang cuma dibaca oleh diri sendiri dan satu dua bot ramah, saya tidak sepenuhnya membenci Google. Saya cuma kecewa seperti wali kelas yang melihat murid kesayangannya jadi juara tapi lupa menyapa teman-teman yang dulu bantu dia belajar. Di kampung saya orang Minang punya pepatah, alam takambang jadi guru — semesta ini terbentang jadi guru bagi siapa saja yang mau belajar dengannya, bukan sekadar merangkumnya lalu pergi. Mungkin itu pelajaran yang belum sempat diajarkan ke Google: bahwa ilmu yang baik selalu menuntun orang kembali ke sumbernya, bukan menahannya supaya tidak ke mana-mana.
Saya sendiri akan tetap menulis. Bukan demi klik, bukan demi algoritma yang sedang naik takhta minggu ini — tapi karena menulis, bagi saya, sudah jadi cara bernapas sejak dua puluh tahun lalu. Kalau nanti internet benar-benar jadi ruang gema raksasa berisi AI yang mengobrol dengan AI, semoga masih ada satu dua pembaca manusia yang mampir, duduk sebentar, dan bilang, "eh, tulisan ini beda, kayak ada orangnya."
Posting Komentar