Memoar Rimba Kambang Muara Labuh 2004
MEMOAR RIMBA 2004: Dialektika Estetika dan Survival di Jalur Kambang–Muaralabuh
Oleh: Masri
Pada tahun 2004, dunia saya terbelah dua: kanvas di studio Pendidikan Seni Rupa UNP dan belantara Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Sebagai Ketua PPAL (Perhimpunan Penggiat Alam Lengayang), saya menyadari bahwa memimpin ekspedisi bukan sekadar soal navigasi darat, melainkan soal mengelola ego kolektif di bawah tekanan oksigen yang tipis dan logistik yang kritis.
I. Visi Strategis
Ekspedisi ini tidak lahir dari romantisme buta. Ini adalah misi besar untuk memetakan kembali jalur historis yang menghubungkan dua urat nadi Pesisir Selatan. Menyadari nilai strategis ini, Bupati H. Darizal Basir dan Wakil Bupati H. Nasrul Abit memberikan dukungan penuh.
Dukungan pendanaan dari Pemerintah Daerah inilah yang memungkinkan kami memproduksi film dokumenter perjalanan ini. Bagi saya, dukungan ini bukan sekadar angka, melainkan legitimasi bahwa penggiat alam adalah mitra strategis negara dalam menjaga kedaulatan lingkungan.
II. Konstruksi Tim
Kami ditempa melalui kurasi yang brutal. Dari 40 kandidat, hanya 13 anggota PPAL yang lolos saringan fisik dan mental setelah digembleng oleh Polsek Lengayang dan Brimob...
III. Elevasi Pertama
Tenda pertama kami berdiri di Lubuak Tanah. Ini adalah titik di mana gravitasi mulai terasa personal. Tanjakan perdana ini menjadi "filter" alami bagi stamina tim. Namun, di sinilah Rakhmus, si bungsu yang tajam lidahnya, menjadi penyelamat. Secara satir, celotehnya adalah mekanisme koping (copying mechanism) yang efektif. Saat fisik di ambang batas, tawa adalah satu-satunya nutrisi yang tersisa. Kami belajar bahwa kepemimpinan adalah seni menjaga frekuensi kebahagiaan tim tetap stabil di tengah penderitaan fisik.
IV. Labirin Hidrologis: Batang Palangai hingga Siago
Kami menyusuri Batang Palangai, mendaki Puncak Siago, hingga berhadapan dengan Batang Aia Mali. Secara teknis, ini adalah medan paling teknis: sungai deras yang diapit tebing vertikal.
Seringkali, jalan setapak yang kami bayangkan ternyata adalah jalan buntu (dead end). Kami harus melakukan detour (putar jalan) berkali-kali. Di sini, waktu bukan lagi variabel linear; ia menjadi sangat relatif. Sebagai seniman, saya melihat pola pergerakan kami seperti garis-garis sketsa yang berulang (scribbling), mencari bentuk yang tepat untuk menembus dinding tebing.
V. Puncak Lumuik: Titik Nadir dan Disintegrasi Kelompok
Mencapai Bukit Lumuik, kami berada di ambang krisis. Logistik menipis, dan tanda-tanda Muaralabuh hanya terlihat samar dari puncak pohon yang kami panjat. Di momen ini, kompas terbaik mulai goyah. Penunjuk jalan kesulitan mencari jalur turun, dan kelompok hampir terbelah oleh ketidakpastian.
Inilah saat di mana AD/ART organisasi bukan lagi sekadar dokumen, tapi panduan moral. Saya harus menanggalkan otoritas absolut demi efektivitas lapangan. Komando jalur turun saya serahkan kepada Sdr. Mifriadi. Hasilnya? Tim kembali terkonsolidasi. Inilah manajemen krisis: tahu kapan harus memegang kendali dan kapan harus mendelegasikan kepercayaan.
VI. Satir Frekuensi Radio: "Siapa Kalian?"
Sepanjang perjalanan, radio panggil (HT) adalah satu-satunya jembatan kami dengan peradaban. Menariknya, koordinasi awal kami dengan kepolisian sempat "menguap" akibat pergantian piket di Polsek Lengayang. Saat saya berhasil menangkap sinyal Polsek Sungai Pagu, suara di seberang sana terdengar sangsi. Mereka menganggap kami sekumpulan pemuda yang sedang "bermain-main". Namun, di bawah bimbingan jarak jauh, kami akhirnya menemukan "napas" terakhir perjalanan: jalur bekas longsor di Mudiak Laweh.



Posting Komentar