Coret, Robek, Selesai: Catatan Seorang Nasabah di BRI
Sebuah Buku Rekening yang Mati di Painan
Selasa, 9 Juni 2026
Pukul 09.00 WIB.
Saya berangkat dari Pasar Kambang menuju Painan.
Langit cukup cerah pagi itu. Jalan pesisir yang membentang di sisi laut seolah mengajak berdamai dengan segala urusan dunia. Mobil melaju santai. Sesekali musik lawas diputar untuk menemani perjalanan.
Entah kenapa pagi itu saya memilih lagu-lagu yang ceria. Mungkin karena hati sedang penuh harapan.
Tujuan saya sederhana.
Mengurus rekening perusahaan yang sudah cukup lama tidak digunakan.
"Ah, paling nanti tinggal aktifkan kembali," pikir saya dengan optimis.
Perjalanan hampir dua jam lebih terasa ringan. Laut biru di sebelah kiri, perbukitan hijau di sebelah kanan. Sesekali saya tersenyum sendiri melihat anak-anak sekolah yang baru pulang. Ada yang berboncengan tiga di sepeda. Ada yang berlari sambil membawa sandal di tangan.
Indonesia memang selalu punya cara unik untuk terlihat lucu.
Pukul 11.15 WIB.
Saya tiba di Painan.
Setelah parkir dan merapikan baju, saya masuk ke bank yang selama ini menjadi salah satu pilihan utama dalam berbagai transaksi.
Bank favorit.
Bank yang selama ini saya percayai.
Bank yang logonya lebih sering saya lihat daripada wajah beberapa teman lama.
Namun rupanya hari itu bukan hari keberuntungan.
Ruang tunggu penuh.
Sangat penuh.
Mayoritas adalah murid-murid yang sedang membuka rekening baru.
Saya mengambil nomor antrean dan duduk di antara mereka.
Di sebelah saya ada seorang siswa SD yang terus memandangi buku tabungannya yang masih baru.
Wajahnya begitu bahagia.
Mungkin dalam pikirannya sudah terbayang menjadi miliarder sebelum tamat SMA.
Sesekali kami bercanda.
"Kalau saldo pertama masuk berapa?" tanya saya.
"Belum tahu Pak."
"Mudah-mudahan satu miliar."
Anak itu tertawa.
Saya ikut tertawa.
Saat itu saya belum tahu bahwa beberapa jam kemudian saya justru akan kehilangan sesuatu.
Bukan uang.
Bukan saldo.
Melainkan kepercayaan.
Waktu berjalan lambat.
Sangat lambat.
Jarum jam seolah ikut antre.
Pukul 12.
Pukul 12.30.
Pukul 12.45.
Dan akhirnya sekitar pukul 13.00 nama saya dipanggil.
Alhamdulillah.
Saya berjalan menuju meja Customer Service.
Di depan saya duduk seorang petugas yang ramah dan tersenyum manis.
Saya pun menjelaskan maksud kedatangan.
"Bu, apakah rekening ini bisa diaktifkan kembali?"
Petugas mulai memeriksa data.
Klik.
Klik.
Klik.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia berkata bahwa rekening tersebut sudah lama tidak aktif dan tidak bisa digunakan lagi.
Saya masih mencoba memahami.
Belum sempat bertanya lebih jauh.
Belum sempat meminta solusi.
Belum sempat berdiskusi.
Tiba-tiba...
Srettt...
Petugas mengambil pulpen.
Mencoret buku rekening.
Kemudian...
Bretttt...
Buku rekening itu dirobek.
Di depan mata saya.
Secara langsung.
Tanpa trailer.
Tanpa peringatan.
Tanpa musik latar yang menenangkan.
Saya terdiam.
Kalau ini film, mungkin saat itu kamera melakukan zoom perlahan ke wajah saya.
Lalu terdengar suara petir di kejauhan.
Padahal cuaca sedang cerah.
Jujur saja, saya kaget.
Bukan karena buku itu bernilai mahal.
Bukan karena saya tidak rela kehilangan selembar kertas.
Tetapi karena prosesnya terasa begitu mudah.
Terlalu mudah.
Seolah-olah sebuah hubungan panjang antara nasabah dan bank bisa berakhir hanya dalam dua gerakan tangan.
Coret.
Robek.
Selesai.
Saya membayangkan kalau buku rekening itu bisa bicara.
Mungkin dia akan berteriak:
"Pak! Selamatkan saya! Saya masih punya kenangan transaksi tahun-tahun lalu!"
Tapi tentu saja buku rekening tidak bisa bicara.
Yang bisa bicara hanya hati kecil saya.
Dan hati kecil saya sedang bertanya:
"Memang begini prosedurnya?"
Saya masih mencoba tersenyum.
Masih berusaha berpikir positif.
Mungkin memang ada aturan yang harus dijalankan.
Mungkin memang itu SOP.
Mungkin.
Tetapi tetap saja ada rasa aneh yang sulit dijelaskan.
Setelah semuanya selesai, saya pamit.
Petugas kemudian menyodorkan kembali buku rekening yang sudah dicoret dan dirobek tadi.
Saya makin bingung.
Kalau sudah dicoret.
Kalau sudah dirobek.
Kalau sudah tidak berlaku.
Lalu untuk apa dikembalikan?
Mungkin sebagai kenang-kenangan.
Mungkin sebagai bukti sejarah.
Mungkin sebagai artefak arkeologi perbankan modern.
Saya tidak tahu.
Dengan setengah bercanda saya berkata,
"Kalau begitu biar untuk Ibu saja."
Petugas tersenyum.
Saya juga tersenyum.
Meski senyum kami mungkin memiliki arti yang berbeda.
Saya keluar dari bank.
Langkah terasa lebih berat dibanding saat masuk.
Bukan karena urusan rekening.
Tetapi karena ada harapan yang tidak sampai ke tujuan.
Kadang dalam hidup kita berangkat dengan semangat.
Menempuh perjalanan jauh.
Meluangkan waktu.
Menunggu berjam-jam.
Hanya untuk pulang membawa cerita.
Bukan hasil.
Sore itu saya memilih singgah ke Bukit Pasumpahan.
Duduk memandang dermaga yang terlihat kecil di kejauhan.
Kapal-kapal bergerak perlahan.
Angin laut berhembus lembut.
Langit mulai berubah warna.
Di tempat setenang itu, saya merenungkan kejadian siang tadi.
Lucu juga hidup ini.
Pagi berangkat membawa buku rekening.
Siang melihatnya dieksekusi.
Sore duduk di atas bukit sambil mengenang masa-masa kejayaannya.
Tidak jauh berbeda dengan banyak hal dalam hidup.
Kadang yang kita kira masih bisa diperbaiki ternyata sudah dianggap selesai oleh sistem.
Kadang yang kita rawat bertahun-tahun bisa berakhir hanya dalam hitungan detik.
Dan kadang perjalanan panjang justru tidak membawa kita pulang dengan solusi.
Melainkan dengan cerita.
Untungnya cerita lebih awet daripada buku rekening.
Buku bisa robek.
Kertas bisa rusak.
Tetapi pengalaman akan selalu tinggal dalam ingatan.
Maka sore itu saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana:
Hari ini saya tidak berhasil mengaktifkan rekening.
Tetapi saya berhasil mendapatkan bahan tulisan.
Dan mungkin, untuk seorang penulis, itu juga bentuk keuntungan yang lain.
Bukit Pasumpahan, 9 Juni 2026

Posting Komentar